5 Tanda Anda Mengalami Depresi Reviewed by gserawak on 09.21 Rating: 2

5 Tanda Anda Mengalami Depresi

Apakah Anda mengalami depresi? Jika demikian, Anda tidak sendirian dan berada di antara jutaan orang Amerika yang diliputi oleh gangguan mood ini. Sebuah artikel baru-baru ini membagikan rincian statistik baru tentang bagaimana depresi di AS meningkat. Jangan pernah menyepelekan kesehatan mental Anda! Terlebih gangguan seperti depresi yang bisa menyerang Anda kapan saja. Siapapun pasti tidak ingin terus-menerus memiliki perasaan kecewa, kesepian, tertekan, dan marah terhadap diri sendiri. Namun, aktivitas serta interaksi dengan orang yang Anda temui sehari-hari dapat menjadi pemicu timbulnya stres pada diri Anda. Mungkin Anda tidak sadar ketika ternyata menderita depresi.Padahal, semakin cepat Anda mengetahui potensi depresi, semakin baik pula proses perawatan dan pengobatan karena dapat dilakukan sejak dini. Karena itu, kenali dan catat 5 tanda depresi pada diri Anda berikut ini! Beberapa di antaranya mungkin mengejutkan Anda!

Tanda Anda Mengalami Depresi

Depresi Dapat Merusak Kehidupan Seks, Begini Cara Mengatasinya


Depresi Dapat Merusak Kehidupan Seks, Begini Cara Mengatasinya.

Salah satu gejala utama depresi adalah "anhedonia." Singkatnya, anhedonia adalah hilangnya minat atau kesenangan pada hal-hal yang dulu Anda sukai. Dan bagi banyak lelaki yang depresi, itu termasuk seks.

"Ketika lelaki mengalami depresi, harga diri dan motivasi mereka turun, juga termasuk libido mereka," kata Ian Kerner, PhD, seorang psikoterapis berlisensi dan penasihat seks.

Setiap atau semua masalah ini dapat mengganggu minat Anda pada seks atau kemampuan Anda untuk aktivitas tersebut.

Lebih lanjut Kerner mengatakan, ketika Anda melihat seks, pada dasarnya ini tentang hal-hal yang membahagiakan dan membangkitkan gairah Anda. Sementara itu, depresi adalah suatu kondisi yang menghambat kegembiraan dan gairah. Jadi tidak heran depresi dan seks tidak bisa menyatu.

Dia menambahkan bahwa beberapa obat antidepresan populer, yaitu, SSRI, dapat menurunkan libido dan mengganggu fungsi seksual. Jadi, depresi mungkin menguras kehidupan romantis Anda dalam banyak cara berbeda. Inilah beberapa di antaranya.

"Ketika orang mengalami depresi, seks bisa menjadi hal terjauh dari pikiran mereka," kata Liesel Sharabi, PhD, asisten profesor komunikasi di West Virginia University.

Dalam salah satu studi Sharabi, yang diterbitkan pada 2015, seorang lelaki berbicara tentang bagaimana depresi membuatnya sulit berada di dekat siapa pun, termasuk pasangannya. 

"Aku hanya ingin ditinggal sendirian sehingga aku tidak berada dalam suasana hati yang buruk," katanya. Lelaki lain dalam penelitian itu mengatakan, semuanya terasa seperti usaha keras, termasuk seks.

Menariknya, penelitiannya juga menunjukkan bahwa depresi yang hanya dialami oleh salah satu orang di antara pasangan, cenderung membuat mereka lebih merasakan tantangan seksual daripada pasangan yang keduanya mengalami depresi. 

Depresi asimetri yang diciptakan dapat membuat lelaki dan pasangannya lebih sulit untuk masuk ke tempat yang sama secara seksual, katanya.

"Ketika seorang lelaki merasa buruk tentang dirinya sendiri, ia mungkin tidak merasa percaya diri atau layak dengan hubungannya," tambah Amy Delaney, PhD, asisten profesor di Millikin University, Illinois dan penulis studi 2018 tentang depresi dan keintiman seksual.

Depresi juga dapat membuat lelaki merasa sendirian dan terisolasi, kata Delaney, yang dapat mengganggu keinginannya atau kemampuan untuk berhubungan intim dengan pasangannya.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk nenyelamatkan kehidupan seks dari depresi? Bagi beberapa lelaki yang mengalami depresi, solusinya sangat sederhana seperti mengganti obat, kata Delaney.

Bagi yang lain, konseling profesional adalah jalan yang harus ditempuh. Tetapi jika Anda menjalin hubungan, penting untuk menyertakan pasangan Anda. 

Protokol perawatan standar benar-benar hanya fokus pada individu. Tetapi terapi solo, tambah dia, sering mengabaikan efek depresi lelaki terhadap pasangannya dan hubungan mereka secara keseluruhan.

"Saya akan menganjurkan pendekatan perawatan untuk kedua pasangan. Kalau pasangan bisa bekerja sama, mereka mungkin dapat mengatasi tantangan keintiman seksual dengan lebih baik yang menyertai depresi salah satu atau kedua pasangan," ujar dia.

Beristirahat sejenak dari hubungan seks juga bisa membantu, kata Kerner. Dia menjelaskan bahwa, jika Anda kesulitan di kamar tidur, melupakan hubungan intim sementara dapat membantu meringankan tekanan. 

"Terutama jika Anda memiliki kecemasan luar biasa terkait seks. Apalagi jika yang Anda rasakan adalah hal yang membuat Anda sangat tertekan atau bersalah atau malu. Istirahat sebentar bisa membantu," saran Kerner.

Selain itu, Anda dan pasangan juga bisa bereksperimen dengan bentuk-bentuk keintiman lain, hal-hal seperti berpegangan tangan, berciuman, dan lainnya. 

Tidak suka hal tersebut? Mungkin coba pendekatan sebaliknya, lakukan saja, apa pun perasaan Anda. Anda dapat dengan cepat melakukan hubungan seks begitu Anda memulai, kata Kerner. Tapi, ini tidak akan berhasil untuk setiap lelaki yang depresi, tambahnya. 

"Cobalah untuk menciptakan gairah seksual itu dan memupuknya. “Berhubungan seks dengan pasangan Anda hampir tidak pernah membuat depresi menjadi lebih buruk, justru itu dapat meningkatkan harga diri Anda atau memiliki beberapa efek paliatif lainnya," tutup Kerner.


Rupanya diagnosis depresi meningkat 33% antara tahun 2011 dan 2014. (1) Sebelumnya, Pusat Nasional Statistik Kesehatan melaporkan bahwa penggunaan antidepresan melonjak 65% dalam 15 tahun antara 1999 dan 2014: dari 7,7% orang Amerika menjadi 12,7% bagi mereka 12 dan lebih tua, dua kali lebih tinggi untuk wanita daripada pria, dan 19,1% untuk mereka yang berusia 60 dan lebih tua. (2)

Kabar baiknya, kata mereka, adalah bahwa "screening depresi universal" terjadi lebih rutin, dan bahwa gangguan mood ini tidak lagi ada di lemari: orang-orang membicarakannya dan mengobatinya ... dengan obat-obatan farmasi.


Perasaan Hampa dan Tertekan
Saat mengalami depresi, sudah pasti Anda tidak bisa menemui perasaan positif seperti bahagia, senang, bersyukur, nyaman, atau puas. Kebalikan dari itu semua, Anda justru akan cenderung lebih mudah menimbulkan sikap permusuhan dengan semua orang yang Anda temui. Lebih dari itu, emosi Anda menjadi tidak seimbang karena lebih condong untuk marah, menghakimi orang lain, dan mengadu pendapat tentang apapun. “Sekali Anda masuk ke dalam perasaan-perasaan depresi, Anda akan lebih memiliki banyak akses untuk membuka pintu perasaan negatif lain, seperti frustasi, kecewa, cemas, dan menjadi sensitif”, ujar Profesor Simon Rego dari Albert Einstein College of Medicine Perasaan kosong atau hampa juga bisa Anda rasakan. Seperti zombie, Anda akan merasakan rutinitas harian yang membosankan. Hal ini bisa diperparah ketika Anda tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari teman, sahabat, atau pasangan Anda. Bahkan mungkin Anda akan sering melamun dan melakukan sesuatu secara tidak sadar. Hal serupa juga dikatakan oleh psikologis dari Universitas Harvard, di mana ketika pikiran seseorang bahagia, maka akan memikirkan hal-hal di masa sekarang atau saat itu juga. Tetapi saat merasakan depresi atau tertekan, pikiran akan menjadi kacau balau dan menyebabkan otak tidak dapat fokus kembali.

Saya ditinggalkan untuk bertanya - tanya mengapa negara depresif ini telah tumbuh dengan pesat? Untuk satu hal, ada banyak hal yang telah berubah di dunia sejak 1 Januari 2000. Cukup untuk membuat orang depresi. Saya mungkin melewatkan sesuatu, di bawah, tetapi di sini adalah contoh yang dapat saya ingat:

    11 September 2001
    The Patriot Act
    Serangan teroris yang sedang berlangsung baik domestik maupun internasional
    Pembunuhan massal di sekolah-sekolah
    Meningkatkan kecanduan opioid dan kematian
    Berbagai perang di Timur Tengah
    Bencana alam yang intens: kebakaran, gempa bumi, angin topan, tsunami, banjir, badai salju dan kekeringan
    Bencana nuklir Fukushima tahun 2011
    Krisis ekonomi tahun 2008
    Real estate yang terlalu mahal
    Penghasilan yang tidak sesuai dengan biaya hidup
    Meningkatnya tunawisma
    Pemilihan presiden yang memecah belah 2016 dan presiden Donald Trump

Tentu saja, daftar ini tidak termasuk situasi pribadi yang menantang yang sebagian besar dari kita alami dari waktu ke waktu.

Muncul Kebiasaan Tidak Sehat
Tanda depresi yang terlihat lainnya adalah perubahan pola hidup dan kebiasaan sehari-hari Anda yang menjadi tidak sehat. Misalnya, Anda menjadi terus-menerus mengonsumsi alkohol atau mengalami sulit tidur alias insomnia di malam hari. Anda mungkin juga akan melupakan hal-hal sederhana seperti menyisir rambut, mengembalikan barang pada tempatnya, atau menggosok gigi. Akibatnya, Anda pun lupa untuk menjaga kebersihan dan kerapihan tubuh Anda. Saat mengalami depresi, Anda secara tidak sadar juga akan melakukan kegiatan lain untuk mengalihkan perhatian. Baik jika kegiatan tersebut bersifat positif seperti olahraga, berkumpul bersama teman, atau mencoba hobi baru. Tapi, jika kebiasaan buruk seperti berbelanja, judi, atau pesta menjadi pilihan Anda, bagaimana? Tidak hanya uang yang akan habis, kesehatan Anda pun akan terganggu. Nah, apalagi jika Anda mencurahkan perasaan depresi Anda dengan bermain sosial media tanpa henti. Kecanduan gadget akan membuat daya tahan tubuh Anda menurun dan kesehatan mata pun juga akan terganggu. Pada tahun 2004, sebuah survei yang melibatkan 10.000 orang menggambarkan betapa buruknya kesehatan mulut seseorang yang terkena depresi. Tak hanya pikiran, tubuh pun akan merasakan dampak buruk dari keadaan otak Anda yang mengalami depresi.

Sulit Mengambil Keputusan
Fakta menunjukkan jika setiap hari kita memutuskan 70 hal secara sadar. Tetapi, depresi dapat membuat Anda kesulitan untuk menentukan keputusan sederhana sekalipun, seperti makanan yang hendak dibeli, sepatu yang akan dipakai, atau warna baju yang akan diambil. Keputusan kecil terlihat menjadi sesuatu yang besar untuk dilakukan. Menjaga kesehatan tak hanya secara fisik saja tapi juga jagalah kesehatan mental Anda. Untuk itu, sebaiknya Anda bisa lebih hati-hati terhadap kelima tanda depresi di atas, Ladies! Lakukan penangan secepatnya agar dapat mengurangi risiko buruk yang bisa terjadi di kemudian hari.


Perusahaan farmasi adalah pemenang besar.

Meskipun sebagian besar sisipan paket antidepresan memperingatkan satu atau efek samping lain, antidepresan farmasi adalah solusi 'pergi ke' dan mengatasi mekanisme untuk depresi. Selain itu, selain efek sampingnya, banyak orang melaporkan kesulitan dalam mendapatkan antidepresan ketika mereka siap untuk melakukannya.

Depresi telah dikaitkan dengan peningkatan peradangan saraf. Sudah menjadi rahasia umum bahwa peradangan merupakan prekursor untuk banyak proses penyakit yang berbeda.

Masukkan kanabis terapeutik.

Ganja dikenal untuk mengurangi peradangan dan menjanjikan dalam studi tentang depresi. (3) Karena senyawa kimianya, terutama THC dan CBD, penyembuhan yang sebenarnya, bukan hanya masking gejala, dapat terjadi untuk memulihkan bagian otak dan sistem imun yang kurang. (4) Ini tidak beracun, hemat biaya dan memiliki sedikit atau tidak ada efek samping sama sekali.

"... tim menganalisis data dari Strainprint, aplikasi seluler pengguna cannabis dapat digunakan untuk melacak perubahan gejala setelah menggunakan dosis yang berbeda dan chemotypes ganja. Secara keseluruhan, gejala depresi yang dilaporkan sendiri menurun hingga 50 persen." (5)

Jadi mengapa tidak ada lebih banyak orang mencoba ganja berobat sebelum menuruni jalur farma? Saya sarankan ada tiga alasan utama:

    Stigma yang tersisa dipromosikan oleh propaganda film Reefer Madness tahun 1936 dan selanjutnya 1937 Undang-Undang Pajak Marahuana
    Preferensi untuk mempercayai dokter dan apa yang mereka resepkan
    Kurangnya pengetahuan tentang penggunaan terapeutik, bukan rekreasi, ganja

Seorang teman saya menggunakan ganja berobat untuk membantunya pulih dari depresi setelah tidak ada yang berhasil. Dia mengatakan bahwa itu memberinya kembali hidupnya, yang menginspirasi dia untuk berbagi pengalamannya dengan orang lain.

Sejauh yang saya tahu beberapa peristiwa yang menghancurkan di abad 21 ini telah mengubah dunia secara drastis dari yang pernah kita ketahui: menyusahkan yang terbaik dan paling buruk bagi mereka yang tahu perbedaannya. Yang mengatakan, saya percaya itu masih benar-benar mungkin untuk melepaskan diri dari depresi dan tetap secara emosional dan mental dengan baik melalui semua itu dengan bantuan yang bertanggung jawab, penggunaan ganja terapeutik.

Dunia mungkin tidak berubah dengan cara yang kita sukai tetapi kita bisa.

_____

(1) Olivia Goldhill, Diagnosis depresi naik 33% di AS, dan itu bagus . 14 Mei 2018

(2) Laura A. Pratt, Ph.D., Debra J. Brody, MPH, dan Qiuping Gu, MD, Ph.D. Penggunaan Antidepresan Antar Usia Berumur 12 dan Lebih: Amerika Serikat, 2011-2014 . 15 Agustus 2017

(3) AK Walker, A. Kavelaars, CJ Heijnen, dan R. Dantzer , Neuroinflammation and Comorbidity of Pain and Depression . Januari 2014

(4) de Mello Schier AR, de Oliveira Ribeiro NP, DS Coutinho, Machado S, Arias-Carrión O, Crippa JA, Zuardi AW, Nardi AE, Silva AC, efek antidepresan dan anxiolytic seperti cannabidiol: senyawa kimia dari Cannabis sativa. 2014

(5) Cuttler C, dkk ., Ganja menggunakan untuk sementara mengurangi gejala depresi, kecemasan, stres. 24 April 2018

Susan adalah lulusan 2018 dari Holistic Cannabis Academy dengan lebih dari 45 tahun keterlibatan pribadi dalam spektrum modalitas kesehatan. Misinya hari ini adalah untuk campur tangan dalam kebisingan kehidupan modern dan membantu orang mengidentifikasi dan menghilangkan stres yang memicu ketidaknyamanan mereka sambil memberikan strategi menuju pengalaman hidup ketenangan batin, kepuasan dan inspirasi.

Jalannya untuk menjadi pelatih gaya hidup dan ganja menjadi jelas pada usia dini sebagai seseorang yang selalu bertanya, 'mengapa', mempertanyakan konvensi sosial. Keingintahuannya tentang kehidupan, dan kesehatan khususnya, mendorong tekadnya untuk mempelajari semua yang dia bisa dan membantu orang lain. Praktik pribadi Susan (secara pribadi dan di Zoom) didasarkan pada paradigma kesehatan, tubuh, pikiran dan jiwa manusia utuh, dan termasuk gaya hidup seseorang. Sebagai pelatih non-dokter, dia menikmati fleksibilitas tambahan dalam menyediakan rencana perawatan mendalam untuk kliennya. Kunjungi situs webnya: http://lifestylewellnessrx.com

Sumber Artikel: http://EzineArticles.com/expert/Susan_Boskey/23923


Article Source: http://EzineArticles.com/17259

Pengertian Depresi

Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus-menerus merasa sedih dan tertekan serta kehilangan minat dalam beraktivitas, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas hidup sehari-hari. Seseorang yang mengalami gangguan depresi mayor, kelainan ini dapat memengaruhi perasaan, pemikiran, hingga perilaku sehingga menimbulkan masalah emosional dan fisik.

Depresi yang terjadi juga dapat mengganggu saat istirahat dan nafsu makan, sehingga kerap merasa lelah dan sulit berkonsentrasi. Efek depresi dapat berlangsung lama atau bahkan berulang dan mampu memengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi dan menjalani aktivitas harian.

 

Faktor Risiko Depresi

Depresi umumnya terjadi pada remaja di rentang usia 20–30an, meski semua rentang usia juga memiliki risiko tersendiri. Lebih banyak wanita dibandingkan pria yang didiagnosis mengidap gangguan mental ini, tetapi wanita lebih cenderung segera mencari pengobatan. Nah, beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya depresi, antara lain:

  • Memiliki riwayat gangguan kesehatan mental pada keluarga.
  • Menyalahgunakan alkohol atau obat terlarang.
  • Memiliki ciri kepribadian tertentu, seperti rendah diri, terlalu keras dalam menilai diri sendiri, pesimis, atau terlalu bergantung kepada orang lain.
  • Mengidap penyakit kronis atau serius, seperti gangguan hormon tiroid, cedera kepala, HIV/AIDS, diabetes, kanker, stroke, nyeri kronis, atau penyakit jantung.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti beberapa obat tekanan darah tinggi atau obat tidur.
  • Mengalami kejadian traumatik, seperti kekerasan seksual, kematian, kehilangan orang yang dicintai, atau masalah keuangan.

 

Penyebab Depresi

Belum diketahui secara pasti sesuatu yang dapat menyebabkan depresi. Beberapa risiko yang dapat meningkatkan risiko dari gangguan ini adalah:

  • Masalah biologis: Seseorang yang mengidap depresi kemungkinan mengalami perubahan fisik di otak. Meski begitu, tingkat signifikan dari perubahan ini belum diketahui secara pasti, meski akhirnya dapat membantu untuk menentukan sesuatu yang menyebabkannya.
  • Gangguan kimia pada otak: Neurotransmitter adalah bahan kimia pada otak yang terbentuk secara alami dan disebut-sebut dapat berperan dalam depresi. Sebuah penelitian menyebut jika perubahan dalam fungsi dan efek neurotransmitter ini dapat memengaruhi stabilitas suasana hati sehingga memengaruhi tingkat depresi pada seseorang.
  • Gangguan hormon: Perubahan atau gangguan pada keseimbangan hormon dapat memicu terjadinya depresi. Hal ini kerap terjadi selama kehamilan dan beberapa minggu atau bulan setelahnya (pascapartum). Selain itu, seseorang yang mengalami masalah tiroid, menopause, serta beberapa kondisi lainnya juga memiliki risiko tinggi pada depresi.
  • Penyakit keturunan: Masalah depresi lebih berisiko terjadi pada seseorang dengan keluarga inti yang pernah mengidapnya. Disebutkan jika gen dapat memengaruhi risiko dari penyebab depresi.

Baca juga: Cyberbullying Bisa Sebabkan Depresi Hingga Bunuh Diri

 

Gejala Depresi

Depresi bisa lebih dari sekedar keadaan sedih atau tertekan. Seseorang yang mengidap gangguan dalam tahap berat dapat menimbulkan berbagai gejala yang berbeda-beda. Beberapa gejala dapat memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat terjadi pada beberapa bagian tubuh. Gejalanya juga mungkin saja menjadi akut atau hilang dan tumbuh. Berikut ini beberapa gejala yang dapat timbul saat mengidap depresi:

  • Selalu merasa bersalah.
  • Merasa putus asa, rendah diri, dan tidak berharga.
  • Selalu merasa cemas dan khawatir yang berlebihan.

Suasana hati buruk atau sedih berkelanjutan.

  • Mudah marah atau sensitif.
  • Mudah menangis.
  • Sulit berkonsentrasi, berpikir, dan mengambil keputusan.
  • Tidak tertarik dan tidak memiliki motivasi terhadap segala hal.
  • Timbul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
  • Selalu merasa kelelahan dan hilang tenaga.
  • Perubahan siklus menstruasi pada wanita.
  • Konstipasi.
  • Gerakan tubuh dan bicara yang lebih lambat dari biasanya.
  • Hilang gairah seksual.
  • Gangguan tidur.
  • Perubahan berat badan dan selera makan.

Baca juga: Ciri dan Tanda Gejala Depresi Pada yang Wajib Kamu Ketahui

 

Diagnosis Depresi

Dokter akan mendiagnosis depresi dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan psikologis, serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah jika diperlukan. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab depresi. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

  • Pemeriksaan fisik: Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan kesehatan. Dalam beberapa kasus, depresi yang terjadi dihubungkan dengan masalah kesehatan fisik yang menjadi penyebabnya.
  • Tes laboratorium: Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan gangguan kelenjar tiroid yang merupakan penyebab depresi adalah dengan hitung darah lengkap. Ahli medis dapat menilai jika terdapat gangguan pada organ tersebut sehingga langsung melakukan penanganan.
  • Pemeriksaan mental: Ahli kesehatan mental akan bertanya tentang gejala yang dirasakan, pikiran, perasaan, serta pola perilaku yang dirasakan. Selain itu, kamu mungkin diminta untuk mengisi kuisioner untuk menjawab beberapa pertanyaan untuk menilai kesehatan mental.

 

Komplikasi Depresi

Depresi adalah gangguan serius yang bisa berakibat fatal bagi pengidap dan keluarga. Depresi sering kali menjadi lebih buruk bila tidak diobati, serta mengakibatkan masalah emosional, perilaku dan kesehatan yang memengaruhi setiap area kehidupan pengidap. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat depresi, antara lain:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas, yang bisa menyebabkan penyakit jantung dan diabetes.
  • Penyakit fisik.

Pelarian berupa alkohol atau penyalahgunaan narkoba.

  • Kecemasan, gangguan panik atau fobia sosial.
  • Menimbulkan konflik keluarga, kesulitan hubungan, dan masalah pekerjaan atau sekolah.
  • Isolasi sosial.
  • Muncul perasaan ingin bunuh diri, percobaan bunuh diri, atau bunuh diri.
  • Keinginan untuk mutilasi diri.
  • Kematian dini akibat kondisi medis.

Baca juga: Depresi dan Cemas Berlebihan Dapat Memicu Mimpi Buruk

 

Pengobatan Depresi

Hidup dengan depresi memang sulit untuk dilakukan, tetapi pengobatan dapat membantu untuk meningkatkan kualitas hidup pengidapnya. Cobalah untuk menemui ahli medis untuk meminta beberapa metode pengobatan agar menjadi lebih baik. Beberapa cara yang bisa dilakukan dokter untuk membantu pengidap mengatasi depresi yang dialaminya, antara lain:

  • Psikoterapi.
  • Cognitive behavior therapy (CBT). Terapi ini bertujuan untuk membantu pengidap melepaskan pikiran dan perasaan negatif, serta menggantinya dengan respon positif.
  • Problem-solving therapy (PST), untuk meningkatkan kemampuan pengidap menghadapi pengalaman yang memicu rasa tertekan.
  • Interpersonal therapy (IPT) untuk membantu mengatasi masalah yang muncul saat berhubungan dengan orang lain.
  • Terapi psikodinamis untuk membantu pengidap memahami apa yang dirasakannya dan bagaimana merespon perasaan tersebut.
  • Obat antidepresan, seperti escitalopram, paroxetine, sertraline, fluoxetine, citalopramvenlafaxine, duloxetine, dan bupropion. Penggunaan obat-obatan ini harus selalu dalam pengawasan dokter karena efek samping yang cukup banyak.
  • Terapi kejut listrik atau electroconvulsive therapy (ECT) untuk pengidap depresi yang tidak membaik setelah diberi obat-obatan, mengalami gejala psikosis, serta pengidap yang mencoba bunuh diri.

                                               

Pencegahan Depresi

Depresi adalah suatu masalah yang tidak dianggap dapat dicegah. Sulit untuk mengenali segala hal yang menjadi penyebabnya, sehingga lebih sulit untuk melakukan pencegahan. Namun jika kamu mengidap episode depresi, akan lebih untuk mencegah kekambuhan dengan mempelajari beberapa cara yang ampuh, seperti perubahan gaya hidup dan pengobatan yang efektif. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah depresi, antara lain:

  • Hindari kebiasaan menyendiri dengan mencari komunitas yang baik.
  • Buat hidup lebih sederhana dengan membuat perencanaan jangka pendek dan panjang.
  • Berolahraga secara teratur, minimal 3–5 kali dalam seminggu dengan durasi sekitar 30 menit.
  • Konsumsi makanan dengan gizi seimbang dan pola makan yang teratur.
  • Buat hidup lebih santai dan hindari stres.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol serta obat-obatan terlarang.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika sudah melakukan pencegahan, tetapi depresi menyerang dan mengganggu aktivitas sehari-hari, segera minta saran pada dokter dari Halodoc untuk diagnosis dini. Penanganan yang dilakukan sedini mungkin bisa membantu mencegah kondisi bertambah semakin parah. Maka dari itu, download aplikasi Halodoc sekarang juga untuk mendapatkan kemudahan dalam akses kesehatan tersebut!

Depresi Berat Bisa Ditandai dengan Berbagai Gejala Ini

Depresi berat merupakan gangguan mental yang serius. Kondisi ini bisa menyebabkan penderitanya sangat menderita, tidak bisa beraktivitas dengan baik, bahkan mencoba bunuh diri.

Depresi adalah gangguan mental yang diderita oleh banyak orang. Menurut WHO, lebih dari 264 juta orang dari segala usia di seluruh dunia menderita depresi. Bila berlangsung lama dan dengan intensitas yang berat, depresi bisa menjadi kondisi kesehatan serius yang memengaruhi perasaan, pemikiran, dan perilaku.
Depresi berat dapat menyebabkan penderitanya sangat menderita, tidak bisa beraktivitas dengan baik, hingga mencoba bunuh diri. WHO menyebutkan hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya.

Penyebab depresi berat

Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya depresi berat, di antaranya:
  • Peristiwa traumatis, seperti pelecehan fisik atau seksual, kematian orang terdekat, hubungan bermasalah, atau masalah keuangan
  • Riwayat keluarga dengan depresi, gangguan bipolar, kecanduan alkohol, atau bunuh diri
  • Riwayat gangguan mental lain, seperti gangguan kecemasan, gangguan makan, atau gangguan stres pascatrauma
  • Penyalahgunaan alkohol atau narkoba
  • Penyakit serius atau kronis, termasuk kanker, penyakit jantung, atau nyeri kronis
  • Obat-obatan tertentu, seperti beberapa obat tekanan darah tinggi atau pil tidur.
Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh dan perubahan pada fungsi maupun efek neurotransmitter juga dapat berperan dalam memicu depresi. 

Tanda-tanda depresi berat

Berdasarkan Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM), seseorang yang menderita depresi berat menunjukkan tanda-tanda berikut:
  • Berpikir untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri
  • Mengalami perubahan pada fungsi hidup
  • Gejala harus berlangsung selama 2 minggu atau lebih
  • Merasa tertekan atau kehilangan minat maupun kesenangan.
Selain itu, Anda juga harus mengalami lima atau lebih gejala berikut dalam waktu 2 minggu:
  • Merasa sedih atau mudah tersinggung hampir setiap hari
  • Menjadi kurang tertarik pada sebagian besar aktivitas yang pernah Anda nikmati
  • Tiba-tiba berat badan bertambah atau berkurang 
  • Mengalami perubahan nafsu makan
  • Sulit tidur atau ingin tidur lebih dari biasanya
  • Mengalami perasaan gelisah
  • Merasa sangat lelah dan kekurangan energi
  • Merasa tidak berharga atau bersalah
  • Mengalami kesulitan berkonsentrasi, berpikir, atau membuat keputusan
Jika Anda merasa mengalami tanda-tanda tersebut, jangan ragu untuk berkonsultasi pada psikolog atau psikiater guna mendapat bantuan yang tepat.

Cara mengatasi depresi berat

Cara mengatasi depresi berat dilakukan dengan melibatkan obat-obatan dan psikoterapi. Selain itu, penyesuaian gaya hidup juga diperlukan untuk membantu meringankan gejala-gejalanya. Berikut penjelasannya:

1. Obat-obatan

Obat antidepresan seperti SSRIs sering kali diresepkan untuk penderita depresi berat. Obat ini bekerja dengan membantu menghambat pemecahan serotonin di otak. Orang dengan depresi berat dianggap memiliki tingkat serotonin yang rendah sehingga mengonsumsi obat ini dapat meredakan gejala dan meningkatkan jumlah serotonin. Selain SSRIs, SNRIs merupakan antidepresan lain yang sering diresepkan.

2. Psikoterapi

Psikoterapi dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk penderita depresi berat. Terapi ini melibatkan pertemuan dengan terapis untuk membicarakan kondisi dan masalah Anda. Psikoterapi dapat membantu Anda dalam:
  • Menyesuaikan diri dengan krisis atau masalah
  • Mengganti keyakinan dan perilaku negatif dengan yang positif
  • Meningkatkan keterampilan komunikasi
  • Menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasi tantangan dan memecahkan masalah
  • Meningkatkan harga diri
  • Mendapatkan kembali kepuasan dan kendali dalam hidup.
Terapi perilaku kognitif atau terapi interpersonal juga mungkin direkomendasikan.

3. Perubahan gaya hidup

Perubahan gaya hidup diperlukan untuk memperbaiki gejala depresi yang Anda rasakan. Berikut adalah gaya hidup yang perlu Anda lakukan.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Hindari alkohol dan makanan olahan tertentu
  • Rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari
  • Tidur dengan cukup selama 7-9 jam setiap malam.

4. Dukungan keluarga

Dukungan keluarga dapat membantu kondisi Anda lebih membaik. Keluarga yang merangkul akan memberikan ketenangan dan mempercepat proses penyembuhan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar